Harga RAM Global Melonjak Drastis dalam Waktu Singkat
Pasar teknologi global tengah diguncang oleh krisis pasokan Dynamic Random Access Memory (DRAM). Dalam tiga bulan terakhir, harga RAM dilaporkan melonjak hingga lebih dari 100 persen, bahkan pada beberapa produk mencapai kenaikan ekstrem hingga empat kali lipat. Lonjakan ini menjadi yang paling tajam dalam beberapa tahun terakhir dan langsung memicu kekhawatiran di kalangan konsumen serta pelaku industri.
Mengacu laporan Windows Central, kenaikan harga RAM bukan dipicu oleh lonjakan permintaan konsumen, melainkan oleh ledakan kebutuhan dari industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sektor ini kini menyerap hampir seluruh kapasitas produksi memori dari pabrikan besar dunia.
Permintaan AI Jadi Pemicu Utama Krisis DRAM
Selama beberapa tahun terakhir, pasar RAM relatif stabil. Harga sempat turun akibat kelebihan pasokan dan lesunya permintaan PC pascapandemi. Namun situasi berubah drastis seiring investasi besar-besaran di sektor AI.
Perusahaan teknologi raksasa seperti OpenAI, Google, dan NVIDIA kini berlomba membangun pusat data berskala masif. Infrastruktur ini digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI generatif yang membutuhkan komputasi serta memori dalam jumlah sangat besar.
Model AI modern sangat bergantung pada memori berkecepatan tinggi seperti DDR5 dan High Bandwidth Memory (HBM). Ironisnya, jenis memori ini juga merupakan komponen utama yang digunakan pada PC, laptop, dan workstation kelas atas.
Produsen RAM Prioritaskan Sektor AI
Tiga produsen DRAM terbesar dunia—Samsung Electronics, SK hynix, dan Micron Technology—dilaporkan kini lebih memprioritaskan pengiriman memori ke klien sektor AI dan pusat data.
Keputusan ini bersifat ekonomis. Kontrak AI enterprise menawarkan margin keuntungan jauh lebih tinggi dan stabil dibanding pasar konsumen. Akibatnya, pasokan RAM untuk pasar ritel menyusut tajam, sementara permintaan tetap ada. Hukum pasar pun bekerja: harga melambung.
Harga RAM Konsumen Meledak di Pasaran
Dampak krisis ini langsung terasa di pasar ritel global. Sebagai contoh, modul Corsair Vengeance DDR5 64GB yang sebelumnya dijual di kisaran USD 204,99 kini melonjak hingga USD 879,99 atau sekitar Rp14,6 juta hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Lonjakan ini memicu fenomena panic buying, di mana konsumen dan perakit PC berlomba membeli stok RAM sebelum harga semakin naik. Di banyak negara, stok RAM DDR5 berkapasitas besar bahkan dilaporkan kosong atau dijual dengan harga tidak masuk akal.
Micron Hentikan Produk Konsumen, Krisis Kian Dalam
Situasi semakin memburuk setelah Micron Technology mengumumkan langkah strategis besar: menghentikan lini produk konsumen Crucial mulai Februari 2026.
Keputusan ini diambil untuk mengalihkan seluruh kapasitas produksi ke sektor data center dan AI enterprise yang dinilai lebih menguntungkan. Micron secara terbuka mengakui bahwa pasar konsumen tidak lagi menjadi prioritas utama mereka.
EVP & Chief Business Officer Micron, Sumit Sadana, menyatakan bahwa pertumbuhan pesat AI memaksa perusahaan mengambil keputusan sulit tersebut demi fokus pada pelanggan strategis.
Dampak Langsung ke Pasar PC dan Laptop
Lonjakan harga RAM berpotensi menimbulkan efek domino di industri perangkat keras. PC rakitan, laptop, dan workstation dipastikan akan mengalami kenaikan harga karena RAM merupakan komponen krusial dalam sistem.
Produsen PC kemungkinan akan:
- Menurunkan kapasitas RAM bawaan
- Menaikkan harga jual perangkat
- Mengurangi varian produk high-end
Bagi konsumen, ini berarti biaya upgrade PC akan semakin mahal. Pengguna yang berencana menambah RAM atau merakit PC baru pada 2026 berpotensi menghadapi harga yang jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Apakah Smartphone dan Konsol Ikut Terdampak?
Meski RAM smartphone menggunakan standar berbeda seperti LPDDR, dampak tidak langsung tetap mungkin terjadi. Jika pabrikan memori memusatkan produksi ke segmen AI, kapasitas produksi jenis memori lain berisiko ikut tertekan.
Industri konsol dan perangkat gaming juga diprediksi akan merasakan efek jangka panjang, terutama pada komponen memori berkecepatan tinggi yang semakin langka.
AI Mengubah Peta Prioritas Industri Teknologi
Krisis RAM ini menjadi bukti nyata bagaimana AI mengubah peta industri teknologi global. Jika sebelumnya pasar konsumen menjadi tulang punggung penjualan komponen, kini AI enterprise mengambil alih posisi tersebut.
Perusahaan teknologi kini lebih memilih klien dengan kontrak besar, jangka panjang, dan margin tinggi. Konsumen individu mau tak mau harus beradaptasi dengan realitas baru ini.
Apa yang Bisa Dilakukan Konsumen?
Di tengah situasi ini, pengamat menyarankan beberapa langkah bagi konsumen:
- Menunda upgrade RAM jika tidak mendesak
- Membeli RAM lebih awal sebelum harga naik lebih tinggi
- Memaksimalkan penggunaan perangkat lama
- Memilih konfigurasi yang lebih efisien
Bagi pengguna profesional, biaya tambahan mungkin tak terhindarkan. Namun bagi pengguna umum, kehati-hatian menjadi kunci.
Kesimpulan: Era RAM Murah Mulai Berakhir
Lonjakan harga RAM hingga 100 persen akibat ledakan permintaan AI menandai perubahan besar dalam industri teknologi. Fokus produsen memori kini bergeser dari konsumen ke pusat data dan AI skala besar.
Jika tren ini berlanjut, era RAM murah kemungkinan besar akan berakhir. Konsumen PC dan perangkat digital perlu bersiap menghadapi harga komponen yang semakin mahal, sementara AI terus menjadi prioritas utama industri global.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah harga RAM akan turun, melainkan kapan—dan apakah pasar konsumen masih akan menjadi fokus produsen memori di masa depan.
Baca Juga : Petinggi Realme: Harga Smartphone Naik Tajam 2026
Cek Juga Artikel Dari Platform : 1reservoir

